BerandaInformasi KampusSyahadat di Ujung Hayat: Hikmah Kisah Kemanusiaan yang Menggetarkan

Syahadat di Ujung Hayat: Hikmah Kisah Kemanusiaan yang Menggetarkan

Rabu, 23 September 2026, auditorium kampus INSIMA menyuguhkan pemandangan yang jauh dari kata kaku. Udara pagi itu terasa penuh warna; sebuah potret nyata dari apa yang sering orang sebut sebagai ruang kosmopolit—di mana batas-batas identitas melebur dalam satu interaksi yang cair, setara, dan membumi. Lupakan sejenak bayangan acara keagamaan formal yang membosankan. Pagi itu, outfit yang mendominasi justru paduan smart-casual: kemeja flanel, sneakers, dan tunik santai yang berbaur natural dengan pakaian khas para pemuka enam agama dan penghayat kepercayaan. Panitia, peserta, dan narasumber bertegur sapa dengan hangat seolah kawan lama. Di tengah lautan manusia ini, tampak Ibu Aniroh M.S.I., sang moderator, sesekali melempar senyum dan memandu alur obrolan mahasiswa dari INSIMA, STKIP, hingga Komputama yang asyik berjejaring.

Ketika forum “Menjaga Harmoni dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika” dimulai, Aniroh dengan luwes memegang kendali, memastikan setiap gagasan dari narasumber mengalir natural. Namun, vibe yang awalnya santai mendadak berubah hening dan emosional ketika Romo Bonifasius Abbas, Pr. dari Gereja Santa Theresia Majenang mulai angkat bicara. Ia membawa seisi ruangan menembus ruang dan waktu, menuju sebuah kamar rumah sakit di Purwokerto. Di sana, ada seorang pasien muslim yang tengah menghadapi sakaratul maut. Sang pasien masih sadar dan punya satu wasiat: menuntaskan keimanannya sebelum napas terakhir berembus. Tanpa kehadiran keluarga atau pemuka agamanya di sisi ranjang, Romo Boni dihadapkan pada dilema teologis yang luar biasa.

“Saya berulang-ulang mengucapkan Asyhadu Allaa Ilaahaillallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadarrosulullah. Saya ingin agar ia berada dalam keimanannya.”

— Romo Bonifasius Abbas, Pr.

Keputusan sang Romo menuntaskan syahadat bagi seorang muslim membuktikan bahwa empati kemanusiaan selalu berhasil melampaui tembok dogma yang kaku. Realitas yang menggetarkan ini ibarat jawaban visual bagi kritik tajam yang sebelumnya dilontarkan budayawan Faisal Kamandobat. Faisal mengingatkan bahwa agama hari ini sedang terjangkit penyakit; sering kali hanya dijadikan identitas struktural dan ajang perebutan simbol di level elite. Padahal, problem riil umat saat ini bukan lagi sekadar soal kerukunan seremonial, melainkan kemiskinan dan penindasan sistemik. Kisah Romo Boni menjadi antitesis yang sangat relate dengan keresahan Faisal; bahwa agama yang hidup adalah agama yang merespons penderitaan manusia secara langsung—layaknya Gereja Santa Theresia yang juga mempekerjakan seorang muslimah di pos administrasi murni karena profesionalitas, tanpa meributkan identitas keimanannya.

Denyut nalar kritis dari para narasumber ini ternyata sukses memantik nyali audiens. Diskusi tidak berjalan satu arah yang membosankan. Deretan mahasiswa—seperti Nasrulloh, Ahmad Mansur, Rizki Anjas, hingga Dika Jaelanei dan Abdulloh—secara bergantian membongkar isu-isu yang dekat dengan realitas mereka. Mereka melempar pertanyaan berani soal solusi problem ekonomi riil umat, etika bersosial media, hingga cara bersikap menghadapi kelompok sekte ekstrem yang sering berseliweran di timeline internet. Forum pagi itu berubah menjadi wadah brainstorming lintas generasi yang humanis, membuktikan bahwa anak muda sangat peduli pada isu struktural jika ruang diskusinya dikemas dengan bahasa yang membumi.

Setelah perdebatan yang intens dan kaya perspektif, Ibu Aniroh kembali mengambil alih panggung. Sebagai figur yang sejak pagi setia menjahit setiap emosi dan gelombang argumen yang berserakan, ia tidak merangkum acara dengan kesimpulan yang kaku. Di bawah langit Majenang, kata-katanya justru membingkai pagi penuh warna itu menjadi sebuah epilog yang menancap di hati; sebuah pengingat abadi tentang makna toleransi yang sesungguhnya.

“Indonesia tidak dibangun dari keseragaman. Indonesia dibangun dari keberagaman. Kita berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda suku… Tetapi dari keberagaman itulah kita mempunyai sebuah rumah bersama bernama Indonesia.” — Aniroh M.S.I.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments