Majenang, 30 Oktober 2025 – Aula Institut Agama Islam Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang menjadi saksi sebuah diskusi intelektual yang mendalam pada Kamis, 30 Oktober 2025. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMPRO) Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar Diskusi Rutinan dengan tema tajam dan relevan: “Gender dan Dakwah Digital: Ruang Baru Perempuan Muslim”.
Acara ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan sebuah forum diskursif yang membedah bagaimana perempuan Muslim dapat menavigasi sekaligus membentuk ruang publik digital sebagai arena baru untuk dakwah yang strategis dan berdampak.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber yang mewakili perpaduan ideal antara teori dan praktik. Pemantik pertama adalah Fitroh Qudsiyyah, M.Pd.I, yang juga menjabat sebagai Kaprodi PAI INSIMA. Beliau menyoroti peluang tak terbatas yang ditawarkan era digital. “Media digital memungkinkan perempuan berdakwah tanpa batasan ruang dan waktu,” tegas Fitroh Qudsiyyah. Beliau mendorong audiens untuk melihat teknologi sebagai kanvas untuk dakwah yang kreatif, santun, dan kontekstual, menjadikan perempuan sebagai agen perubahan sosial yang aktif menebarkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Perspektif tersebut diimbangi oleh pemantik kedua, Futikhatus Sa’diyah, M.Ag, seorang praktisi dan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau menekankan sisi tantangan dan tanggung jawab: pentingnya literasi digital kritis dan kesadaran gender.
“Perempuan harus berani tampil di ruang publik digital,” ujarnya, “namun, keberanian itu harus dibarengi kemampuan kritis agar pesan yang disampaikan tidak hanya menarik, tetapi juga edukatif dan berlandaskan nilai Islam yang inklusif”.
Diskusi ini membuktikan hidupnya budaya akademis yang kritis di kalangan mahasiswa PAI. Dipandu oleh moderator Itaul Fatunnajah, forum ini tidak berlangsung satu arah. Para mahasiswa terlibat aktif dalam sesi tanya jawab yang interaktif , menggali lebih dalam berbagai tantangan dan peluang nyata yang mereka hadapi sebagai calon pendakwah di dunia maya.
Melalui forum ini, Prodi PAI INSIMA menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak pengajar, tetapi juga pemikir. Harapannya jelas: melahirkan generasi Muslimah yang tidak hanya melek digital, tetapi juga berpikir kritis dan berani mengambil peran strategis untuk mewarnai dakwah yang adaptif di masa depan. Tabik















