Di tengah realitas yang tidak bisa dipungkiri—bahwa sebagian lembaga keuangan sejenis mulai kehilangan kepercayaan publik akibat tata kelola yang lemah dan praktik yang jauh dari nilai amanah—peran generasi muda terdidik menjadi semakin penting. Salah satu di antaranya adalah alumni Program Studi Ekonomi Syariah INSIMA yang hadir membawa semangat baru dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah.
Adalah Supar, alumni INSIMA tahun 2024 Program Studi Ekonomi Syariah, yang kini aktif berkontribusi dalam penguatan kelembagaan melalui KSPPS AKU Cimanggu Cabang Majenang. Dengan bekal keilmuan yang diperoleh selama masa studi, ia tidak hanya memahami konsep ekonomi syariah secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik nyata di tengah masyarakat.
Kehadiran Supar dalam kegiatan silaturahmi ke lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif MWC NU Majenang menjadi bagian dari langkah strategis yang lebih luas. Kegiatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan upaya membangun komunikasi, memperkenalkan lembaga, serta menggali potensi kerja sama yang selama ini belum tergarap secara optimal. Dunia pendidikan berbasis keumatan dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar, baik dalam pengelolaan dana maupun pengembangan usaha produktif.
Pengalaman Supar di lapangan turut memperkuat kapasitasnya dalam menjalankan peran tersebut. Ia pernah menjadi Tour Leader dan pembimbing umroh di PT DLM pada tahun 2024 serta di PT Dulongmas Purwokerto pada tahun 2025. Selain itu, ia juga aktif sebagai pembimbing manasik haji di KBIHU Al Mabrur Cilacap. Saat ini, ia juga mengemban amanah sebagai Nazhir wakaf tunai uang di KSPPS AKU Cimanggu.
Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada promosi produk semata. Lebih dari itu, yang diutamakan adalah proses memahami kebutuhan riil lembaga, memetakan peluang kolaborasi, serta memastikan bahwa setiap layanan yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan prinsip syariah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di sinilah letak pembeda yang coba dibangun. Ketika banyak lembaga lebih berorientasi pada ekspansi, pendekatan yang dilakukan justru menitikberatkan pada pembangunan kepercayaan. Relasi yang dibangun bukan sekadar transaksional, tetapi relasional—berbasis nilai amanah, transparansi, dan akuntabilitas.
Kegiatan silaturahmi ini sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa pembangunan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara lembaga keuangan syariah dan institusi pendidikan sebagai pusat pembinaan nilai dan karakter. Ketika keduanya bersatu dalam visi yang sama, maka yang terbangun bukan hanya kerja sama, tetapi sebuah gerakan bersama menuju kemandirian ekonomi umat.
Di tengah gelombang ketidakpercayaan yang masih terasa, kiprah alumni Ekonomi Syariah INSIMA seperti Supar menjadi bukti bahwa harapan itu masih ada. Namun kepercayaan tidak cukup dibangun melalui wacana—ia harus diwujudkan dalam konsistensi, integritas, dan komitmen menjaga amanah.
Karena pada akhirnya, kepercayaan masyarakat adalah fondasi utama yang harus terus dijaga dalam setiap langkah lembaga keuangan syariah.















