BerandaKabarDekan FTIK INSIMA Berpartisipasi dalam Lounge PPPAII Bertema Desain Kurikulum PAI Adaptif...

Dekan FTIK INSIMA Berpartisipasi dalam Lounge PPPAII Bertema Desain Kurikulum PAI Adaptif dan Bernilai

 

Kartika Wanojaleni, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) sekaligus dosen tetap Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam KH. Sufyan Tsauri Majenang (INSIMA) Cilacap, berpartisipasi aktif dalam kegiatan LOUNGE (Literasi dan Obrolan Unggul Nasional Generatif Edukatif) yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Prodi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) pada 17 Juli 2025.

Kegiatan yang mengangkat tema “Desain Kurikulum PAI yang Adaptif dan Berbasis Nilai” ini menjadi ruang dialog akademik nasional dalam merespons tantangan zaman terhadap pendidikan agama Islam. Tema ini sangat selaras dengan bidang keahlian Kartika Wanojaleni, M.Ag., yaitu Telaah Kurikulum PAI, yang telah menjadi fokus kajian dan pengajarannya selama ini.

Dalam forum tersebut, dipaparkan bahwa kurikulum PAI menghadapi tantangan besar di era global: derasnya arus informasi, krisis karakter, serta perubahan teknologi dan sosial. Jika kurikulum masih kaku dan eksklusif, maka PAI akan tertinggal. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah merancang kurikulum PAI yang inklusif, adaptif, dan adoptif.

Adapun beberapa poin hasil diskusi yang disampaikan dalam Lounge PPPAII tersebut antara lain:

Adaptif – Kurikulum harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Adoptif – Berani mengadopsi praktik baik dari luar (seperti OBE, MBKM, FIBAA) tanpa kehilangan identitas keislaman.

Berbasis nilai – Tidak hanya jargon, tetapi benar-benar dihidupkan dalam budaya sekolah dan keteladanan guru.

Langkah awal yang disepakati meliputi:

Penguatan literasi Qur’ani sebagai dasar keimanan.

Standarisasi kompetensi guru PAI, termasuk dalam penguasaan Al-Qur’an.

Pelatihan guru dan dosen dalam menciptakan konten digital yang kreatif dan edukatif.

Kartika Wanojaleni, M.Ag., mengapresiasi forum ini sebagai ruang strategis untuk mendorong revitalisasi kurikulum PAI agar lebih membumi dan membentuk generasi yang unggul secara spiritual dan intelektual.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen. Ia harus hidup, menyapa, dan menuntun generasi,” tegas salah satu narasumber dalam kegiatan ini.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments