Majenang — Sebuah penemuan bersejarah kembali memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara. Manuskrip sanad Qiraah Al-Qur’an dan naskah kitab tauhid tulisan tangan milik KH Sufyan Tsauri Cigaru ditemukan dan berhasil diidentifikasi sebagai warisan penting yang menghubungkan Pesantren Cigaru dengan tradisi besar transmisi ilmu dan keruhanian Islam.
Penemuan manuskrip ini menjadi bukti autentik bagaimana penjagaan kemurnian Kalam Ilahi terus berlangsung dari generasi ke generasi melalui jalur sanad keilmuan yang kuat. Selain memiliki nilai historis, manuskrip tersebut juga menunjukkan bahwa pesantren di Nusantara memiliki kontribusi besar dalam menjaga tradisi intelektual Islam hingga hari ini.
Dalam proses identifikasi naskah, tim dari Kecamatan Majenang bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap turut hadir untuk melakukan pendataan serta penelitian awal terhadap manuskrip kuno tersebut. Salah satu tim yang terlibat adalah Azhari Fathul dari Kecamatan Majenang yang juga merupakan alumni INSIMA. Selain itu, hadir pula Faisal Kamandobat dari Pesantren Cigaru yang turut mendampingi proses identifikasi dan pelestarian manuskrip.
Naskah yang ditemukan berupa Al-Qur’an kuno dan tulisan tangan berbahasa Arab yang diperkirakan berisi ajaran tauhid. Berdasarkan identifikasi awal, manuskrip tersebut diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.
Tim dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap juga melakukan proses registrasi naskah kuno tersebut ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) guna memperoleh sertifikat resmi sebagai bukti kepemilikan dan pelestarian warisan manuskrip bersejarah.
Penemuan manuskrip ini menjadi berkah dan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar Pondok Pesantren Cigaru, para santri, serta alumni. Manuskrip tulisan tangan KH Sufyan Tsauri ditemukan oleh Ny. Hj. Hamidah Djarir di perpustakaan pribadi milik mendiang ayahandanya yang juga merupakan putra tertua KH Sufyan Tsauri.
Rektor INISMA (Institut KH. Sufyan Tsauri Majenang), Dr. H. Masngudi, M.E.I., turut memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian manuskrip tersebut. Menurut beliau, keberadaan manuskrip sanad dan naskah tauhid ini menjadi penguat sejarah keilmuan Islam lokal yang memiliki hubungan erat dengan tradisi ulama Nusantara dan penting dijaga sebagai aset intelektual umat.
Keberadaan manuskrip tersebut diharapkan dapat menjadi sumber penelitian, pengembangan kajian Islam Nusantara, sekaligus penguat identitas sejarah pesantren sebagai pusat transmisi ilmu, adab, dan spiritualitas Islam di Indonesia.
INSIMA mengapresiasi upaya pelestarian manuskrip kuno ini sebagai bagian dari ikhtiar menjaga warisan intelektual ulama Nusantara agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa kini maupun mendatang.

















