BerandaInformasi KampusMeracik Harapan Pertiwi di Bumi Sarwadadi

Meracik Harapan Pertiwi di Bumi Sarwadadi

Tanah pertanian sejatinya adalah urat nadi kehidupan, rahim yang terus-menerus melahirkan penghidupan bagi warga desa. Namun, bagi sebagian petani, merawat kesuburan pertiwi kini terasa seperti memikul beban sejarah yang kian memberatkan. Harga pupuk kimia yang terus meroket seringkali membuat para petani tercekik di ladangnya sendiri. Menyelami denyut nadi permasalahan akar rumput ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke-18 Institut Agama Islam K.H. Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang hadir. Mereka tidak datang untuk sekadar menggugurkan kewajiban administratif kampus, melainkan untuk melebur, membasuh luka lahan, dan mencari jalan keluar bersama warga.

Pada Minggu, 2 Agustus 2026, suasana di Balai Desa Sarwadadi, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, terasa begitu hidup dan sarat makna. Puluhan perwakilan kelompok tani duduk melingkar tanpa sekat, berbagi ruang diskusi dengan jajaran akademisi, tokoh agama, hingga pengurus struktural Nahdlatul Ulama. Hari itu, ruang balai desa diubah menjadi laboratorium sosial ketika mahasiswa KKN INSIMA berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP NU) Cilacap menggelar Pelatihan Pupuk Organik.

KKN INSIMA dan LPP NU Cilacap Berjabat Rasa Meruwat Kesuburan Tanah

Kehadiran Rektor INSIMA Majenang, Dr. H. Masngudi, M.E.I., bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, Dr. Imam Tobroni, S.Ag., M.M., di tengah-tengah petani menegaskan pesan moral yang kuat: perguruan tinggi tidak boleh berjarak dengan realitas masyarakat. Dalam perbincangan yang hangat, Dr. H. Masngudi menyampaikan bahwa langkah ini adalah wujud nyata dari upaya mendongkrak sektor pertanian warga melalui sinergi ilmu akademik dan potensi organisasi keagamaan.

Membangun kemandirian desa tidaklah semudah menyilang jawaban pilihan ganda di atas kertas ujian; ia menuntut kedalaman proses, ketekunan evaluasi, dan praktik nyata di lapangan layaknya menyusun sebuah esai panjang yang berbobot. Hal ini diamini oleh Kepala Desa Sarwadadi, Amin Muzaki, yang menyambut inisiatif tersebut dengan raut penuh kelegaan. Baginya, momentum ini adalah oase bagi para petani yang sangat membutuhkan bekal pengetahuan baru agar bisa mengolah lahan secara efisien dan ramah lingkungan.

Alih-alih dijejali teori agronomi yang berjarak, para petani diajak mempraktikkan langsung ilmu dari K.H. Suroso Abdul Rozak, pakar pertanian organik dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah divisi LPP NU. Dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna, beliau memandu warga memproses limbah rumah tangga, kotoran ternak, dan dedaunan yang difermentasi menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan pembenah tanah.

Melalui lensa lensa dokumentasi yang merekam setiap sudut kegiatan, terlihat jelas gelak tawa dan antusiasme mewarnai sesi praktik pencampuran bahan baku. Di sinilah identitas INSIMA sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada kemanusiaan terwujud nyata. Mahasiswa KKN membuktikan bahwa dakwah yang paling menyentuh seringkali dimulai dengan tangan yang rela kotor oleh tanah demi merawat bumi dan menjaga kemandirian pangan desa.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments