Ada getar yang berbeda di pelataran Cigaru saat fajar Sabtu (29/08) menyapa. Udara pagi Majenang yang sejuk menyambut derap langkah ratusan mahasiswa baru berbusana putih-hitam. Di balik ketukan pintu aula utama gedung INSIMA, senyum ramah panitia seolah mencairkan rasa canggung anak-anak muda yang baru saja melangkah keluar dari seragam sekolahnya. Mereka membawa ransel penuh harapan, memulai babak baru di tempat di mana nilai kesantrian dan intelektualitas berpadu tanpa sekat.
Ketika lantunan ayat suci dan selawat berkumandang, ruang aula luruh dalam ketenangan. Suasana kemudian bergemuruh saat bait demi bait Mars INSIMA dinyanyikan dengan dada membusung. Riak emosional itu kian nyata saat atribut tanda peserta disematkan. Tepuk tangan penonton bukan sekadar seremoni penerimaan administratif, melainkan tanda diterimanya mereka ke dalam lingkaran keluarga besar yang mengusung panji studi Islam humanis.

Di balik dinding ruang kelas, PBAK INSIMA menghadirkan ruang perjumpaan batin yang jujur. Salah satu momen paling berkesan hadir saat sesi psikologi kuliah. Di hadapan selembar kertas putih, para mahasiswa baru diminta menuliskan lima jawaban atas pertanyaan reflektif: “Aku adalah…”. Ruangan mendadak hening. Di era serba bising oleh riuh media sosial, jeda kontemplatif ini menyentuh kesadaran paling personal: tentang mengenali diri, berdamai dengan kecemasan transisi, dan pentingnya saling menjadi penopang (support system) bagi satu sama lain.

Ketika mentari tergelincir berganti petang, atmosfer formal bertransformasi total. Pelataran kampus disulap menjadi panggung ekspresi dalam Malam Pentas Seni. Denting instrumen dan vokal pembuka dari Diamond Music langsung memecah pekat malam. Di bawah pendar lampu sorot, rasa asing yang sempat ada lenyap tanpa bekas. Mahasiswa yang baru saling bertukar nama kemarin pagi, malam itu tampil begitu padu memperagakan parodi teatrikal sosial, tarian tradisional kontemporer, hingga bait puisi yang beresonansi kuat. Tawa renyah dan tepuk tangan riuh menjadi bahasa bersama yang merekatkan sekat-sekat asal daerah.

Keesokan paginya, kekhidmatan kembali merengkuh sanubari. Deretan saf mahasiswa bersimpuh dalam hening ziarah masyayikh. Merunduk di pusara para pendahulu bukan sekadar ritus simbolik, melainkan tradisi kultural santri untuk menjaga sanad perjuangan, merawat rasa takzim, dan mengingat bahwa kemegahan gedung ilmu hari ini berdiri di atas tetes keringat para muassis.

Nilai ukhuwah itu kemudian turun langsung menyentuh tanah. Berganti mengenakan kaos merah marun, para mahasiswa serempak menyingsingkan lengan baju, menyapu dedaunan kering, dan membersihkan sudut-sudut lingkungan kampus dalam aksi bakti sosial. Tidak ada hierarki senior-junior di sini; yang ada adalah gotong royong dan kesadaran ekologis bahwa kepedulian sosial harus dimulai dari halaman sendiri.
PBAK dua hari ini telah tuntas dipungkasi dengan senyum bangga dan penghargaan bagi kelompok-kelompok penampil terbaik. Namun gema dari tema “Menyatu dalam Ukhuwah, Bertumbuh dalam Keilmuan” baru saja ditanamkan ke relung jiwa. Di kampus ini, mereka tidak sekadar belajar mengejar angka indeks prestasi, tetapi diajak merawat nurani, meneguhkan adab kemanusiaan, dan melangkah bersama menyongsong masa depan.













