Diskusi Ramadhan Intelektual PC ISNU Cilacap
Sabtu, 7 Maret 2026 | 21.00–23.15 WIB
Moderator: Imam
Narasumber:
1. Aniroh, S.Ag, M.S.I
2. Second Is Ujiandoko, S. Pd. I, M. M.
Diskusi ini mengangkat tema Ramadhan sebagai momentum transformasi sosial, dengan fokus pada penguatan nilai inklusi sosial dan kepedulian terhadap kelompok rentan di masyarakat.
Narsumber pertama (Ibu Aniroh) menyoroti pentingnya membangun masyarakat yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik. Karena itu, pendekatan terhadap disabilitas perlu bergeser dari sekadar pendekatan belas kasihan (charity) menuju pendekatan berbasis hak (rights-based approach), sehingga penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, narasumber kedua (Bpk. Second Is Ujiandoko) menyoroti persoalan anak jalanan dan remaja rentan, yang sering kali muncul sebagai fenomena sosial di masyarakat. Ia menekankan bahwa penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum, tetapi juga membutuhkan pendekatan sosial, pendidikan, keluarga, dan komunitas. Peran orang tua, sekolah, tokoh masyarakat, serta pemerintah menjadi penting dalam membangun lingkungan yang lebih suportif bagi perkembangan anak dan remaja.
Diskusi juga menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif serta meningkatnya kesadaran sosial masyarakat terhadap kelompok rentan. Ramadhan dipandang sebagai momentum yang tepat untuk menumbuhkan empati, kepedulian, serta mendorong gerakan sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.
Beberapa gagasan tindak lanjut yang muncul dalam diskusi antara lain:
– Menginisiasi FGD untuk pengembangan modul pembelajaran inklusif bagi madrasah atau sekolah di Kabupaten Cilacap.
– Memperkuat advokasi kebijakan inklusi di tingkat daerah, termasuk gagasan pengembangan desa inklusi.
– Mendorong penguatan atau pembentukan Rumah Inklusi sebagai pusat edukasi, layanan, serta informasi bagi keluarga penyandang disabilitas.
– Mengintegrasikan perspektif pendidikan inklusif dan pendekatan sosial terhadap anak jalanan dalam program pendidikan dan kebijakan pemerintah daerah.
Kesimpulan:
Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat empati sosial dan komitmen membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan berkeadaban.













