Bulan Rajab, menjai siklus di ana ruang-ruang sosial umat Islam di Indonesia berubah ritmenya. Masjid-masjid ramai selepas magrib, langgar-langgar desa dipenuhi aroma kopi dan jajanan sederhana, mimbar-mimbar pengajian menuturkan kembali perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra’ Mi’raj hadir bukan hanya sebagai cerita suci, tetapi sebagai peristiwa yang dihidupi: dirayakan, diceritakan ulang, dan ditanamkan dalam ingatan kolektif lintas generasi. Di titik ini, Isra’ Mi’raj adalah pengalaman sosial—ia hidup dalam ritual, bahasa, dan kebiasaan umat.
Di banyak tempat, peringatan Isra’ Mi’raj melahirkan khazanahnya tersendiri. Ada yang dikemas dengan ceramah formal, ada pula yang hadir dalam bentuk tembang, shalawat, atau hikayat tutur para kiai kampung. Tradisi ini menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj bukan hanya milik teks, tetapi juga lekat dengan pengalaman kolektif. Ia bersemayam dalam imajinasi umat, menjadi bagian dari cara masyarakat Muslim Nusantara memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan semesta.
Dari pengalaman sosial itulah kita ditarik ke makna yang lebih dalam. Isra’ Mi’raj, dalam tradisi Islam, tidak berhenti sebagai perjalanan geografis dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan naik ke langit. Banyak ulama mentashihnya sebagai pengalaman spiritual tingkat tinggi —sebuah peristiwa transformasional yang menghubungkan wahyu, kesadaran batin, dan tanggung jawab manusia. Perjalanan ini bukan sekadar dzatiyah (material) “melihat langit”, tetapi membaca ulang makna hidup dari sudut pandang ilahi (ilahiyat).
Menariknya, perjalanan spiritual ini selalu diceritakan dengan detail yang kaya: kecepatan perjalanan, perjumpaan dengan para nabi, hingga dialog kosmik antara langit dan bumi. Dalam khazanah kitab ulama Nusantara, detail-detail itu tidak diposisikan sebagai laporan ilmiah, melainkan sebagai pralambang (simbol). Misalnya, hikmah tentang “kecemburuan langit dan bumi” karena bumi menjadi tempat berpijaknya Nabi Muhammad, menggambarkan semesta sebagai ruang yang hidup dan relasional—bukan benda mati yang netral. Lalu kereta Paksi Naga Liman, yang merepresentasikan Buroq sekaligus kerangka model alat transportasi yang artistik nan futuristik.
Pada titik ini, Isra’ Mi’raj dapat dibaca sebagai perjalanan kesadaran. Isra’ merepresentasikan gerak horizontal: menyusuri sejarah kenabian, penderitaan umat, dan jejak kemanusiaan. Sementara Mi’raj adalah gerak vertikal: kenaikan batin menuju nilai-nilai transenden. Yang menarik, puncak dari seluruh perjalanan itu bukanlah klaim metafisis, melainkan turunnya perintah salat—sebuah praktik yang justru menuntut keteraturan, disiplin, dan keterlibatan sosial.
Dari sudut pandang pengetahuan modern, hikayat ini sering dianggap sulit dijangkau nalar. Namun sains kontemporer sendiri telah menunjukkan bahwa realitas tidak sesederhana pengalaman sehari-hari. Ruang dan waktu tidak selalu linear; keduanya dapat melengkung dan relatif. Sains tidak dimaksudkan untuk membuktikan mukjizat, tetapi membantu kita memahami satu hal penting: keterbatasan pengetahuan manusia. Dalam konteks ini, Isra’ Mi’raj dapat dibaca sebagai pengingat bahwa tidak semua makna harus tunduk pada verifikasi empiris agar tetap bermakna.
Pembacaan semacam ini tidak meniadakan iman, juga tidak menyingkirkan nalar. Ia justru menempatkan keduanya dalam relasi dialogis. Pengalaman spiritual tidak diposisikan sebagai lawan pengetahuan, melainkan sebagai horizon lain dari cara manusia memahami kenyataan (realitas). Karena itu, Isra’ Mi’raj tidak perlu direduksi menjadi “tidak masuk akal”, tetapi juga tidak harus dipaksa menjadi “ilmiah” dalam pengertian sempit.
Kekayaan makna Isra’ Mi’raj semakin kentara ketika ditempatkan dalam konteks budaya Nusantara. Tradisi lokal mengenal banyak simbol perjalanan kosmik: gunungan dalam wayang sebagai representasi jagat raya, laku tirakat Dewaruci sebagai perjalanan batin, atau suluk yang menggambarkan pendakian spiritual manusia. Simbol-simbol ini tidak identik dengan teologi Islam, tetapi menunjukkan adanya imajinasi kosmologis yang serupa—bahwa hidup adalah perjalanan menuju pemaknaan yang lebih tinggi.
Kitab-kitab karya ulama Nusantara seperti Syekh Ahmad Abdul Hamid Kendal, Syekh Sahli Semarang, atau Mbah Bisri Musthofa Rembang menghadirkan Isra’ Mi’raj dengan bahasa yang membumi. Terjemahan syair, penggunaan istilah Jawa, dan narasi visual membuat hikayah ini terasa dekat. Isra’ Mi’raj tidak berada di langit yang jauh, tetapi hadir dalam bahasa sehari-hari umat. Inilah wajah Islam yang berdialog dengan budaya tanpa kehilangan inti ajarannya.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Clifford Geertz yang melihat agama sebagai sistem makna yang hidup dalam praktik sosial. Robert W. Hefner menunjukkan bagaimana Islam dapat tumbuh menjadi kekuatan sipil yang matang ketika nilai spiritualnya terhubung dengan etika publik. Fazlur Rahman mengingatkan bahwa wahyu selalu mengandung arah moral yang kontekstual, sementara Seyyed Hossein Nasr menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam menjaga keseimbangan peradaban modern. Kesemuanya memperlihatkan bahwa pengalaman keagamaan yang utuh selalu bergerak antara teks, pengalaman batin, dan realitas sosial.
Jika Isra’ Mi’raj dibaca dengan cara ini, ia tidak berhenti sebagai peristiwa masa lalu, tetapi menjadi cermin bagi masa depan. Ia mengajarkan bahwa spiritualitas yang otentik tidak berakhir di langit, melainkan kembali ke bumi —ke kehidupan manusia dengan segala kompleksitasnya. Nabi Muhammad tidak menetap di puncak pengalaman mistiknya, tetapi kembali membawa pesan yang harus dijalani dalam keseharian.
Di ruang-ruang akademik Islam progresif, cara membaca semacam ini menjadi penting. Ia memungkinkan agama tetap hidup dalam dialog dengan ilmu pengetahuan, budaya, dan problem kemanusiaan kontemporer. Tradisi keilmuan tidak dipisahkan dari etika, dan spiritualitas tidak dijauhkan dari tanggung jawab sosial. Dari sinilah tumbuh generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga peka secara sosial dan intelektual.
Bagi generasi muda hari ini, Isra’ Mi’raj dapat dibaca sebagai undangan untuk berani menempuh perjalanan ganda: mendalami pengetahuan sekaligus merawat kedalaman batin. Perjalanan itu mungkin tidak selalu spektakuler, tetapi ia menuntut konsistensi, disiplin, dan keberanian berpikir. Di sanalah iman, nalar, dan kemanusiaan bertemu—membentuk ekosistem keilmuan Islam yang humanis, progresif, dan relevan dengan zaman.
Pada akhirnya, Isra’ Mi’raj bukan sekadar ‘kisah ajaib’ tentang satu malam. Ia adalah metafora panjang tentang manusia yang terus mencari makna: dari bumi menuju langit, lalu kembali ke bumi dengan kesadaran baru. Selama pencarian itu tetap hidup, Isra’ Mi’raj akan selalu menemukan relevansinya—dalam ritual sosial, dalam diskursus akademik, dan dalam upaya kita merawat kemanusiaan di tengah dunia yang terus berubah.
Sumber:
- Geertz, Clifford. Islam Observed. University of Chicago Press, 1968.
- Hefner, Robert W. Civil Islam. Princeton University Press, 2000.
- Lombard,Denys. Nusa Jawa, Silang Budaya: Jaringan Asia
Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Spirituality. Crossroad, 1987. - Rahman, Fazlur. Major Themes of the Qur’an. University of Chicago Press, 1980.
- Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. The Wahid Institute, 2006.
- KH MA Sahal Mahfudh. Nuansa Fiqih Sosial. LKiS, 2004.














