BerandaInformasi KampusKegiatan MahasiswaMerambah ke Jawa Barat, KKN INSIMA Ciptakan Inovasi Kripik Pepaya di Pangandaran

Merambah ke Jawa Barat, KKN INSIMA Ciptakan Inovasi Kripik Pepaya di Pangandaran

Maruyungsari, 21 Juli 2025 – Tim Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Institut Agama Islam KH. Sufyan Tsauri (INSIMA) berhasil menciptakan inovasi pangan yang berpotensi meningkatkan perekonomian petani di Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Diinisiasi oleh Ainun Nur Ali Rahmawati bersama tim mahasiswa KKN lainnya dari Program Studi Ekonomi Syariah, buah pepaya yang selama ini dijual murah kini diolah menjadi kripik stik renyah dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi petani pepaya di Desa Maruyungsari. Dari hasil survei, diketahui terdapat sekitar 400 pohon pepaya produktif, namun hasil panennya hanya dihargai Rp 3.500 per kilogram oleh tengkulak. Harga yang rendah dan keterbatasan akses pasar membuat potensi ekonomi dari komoditas unggulan desa ini belum tergarap maksimal.

 

“Sesuai arahan dari Ibu ‘Ainul Imronah, M.E.I., selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah, kami sebagai mahasiswa dituntut untuk mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ekonomi masyarakat,” ungkap Ainun, mewakili rekan-rekannya. “Melihat melimpahnya hasil panen pepaya di sini, kami tergerak untuk menciptakan produk olahan yang bisa memberikan nilai tambah bagi para petani,” lanjutnya.

Proses pembuatan kripik ini terbilang sederhana namun efektif. Ainun dan tim mahasiswa KKN, bekerja sama dengan para petani, memilih pepaya yang belum terlalu matang untuk menjaga tekstur renyahnya. Pepaya tersebut kemudian dikupas, diiris tipis menyerupai stik, lalu digoreng hingga kering dan garing.

Hasilnya adalah produk “Kripik Stik Pepaya” yang gurih dan unik. Inovasi ini secara signifikan mendongkrak nilai jual pepaya. Jika dalam bentuk buah segar dihargai Rp 3.500 per kg, setelah diolah menjadi kripik, produk ini dapat dijual dalam kemasan seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000. Selain itu, produk olahan ini memiliki daya simpan yang lebih lama dan jangkauan pasar yang lebih luas, baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, Muhammad Habib, memberikan apresiasi penuh terhadap inisiatif ini. “Inovasi yang dilakukan oleh Ainun dan seluruh mahasiswa KKN INSIMA adalah bentuk nyata dari kontribusi di tengah masyarakat. Ini adalah wujud keberhasilan sinergi antara perguruan tinggi dengan pemerintah desa dalam upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lokal,” ujar Habib.

 

 

Keberhasilan program ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan ekonomi kreatif berbasis syariah dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan klasik yang dihadapi petani, sekaligus membuka jalan bagi Desa Maruyungsari untuk memiliki produk oleh-oleh khas yang berdaya saing dan berkelanjutan.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments