MAJENANG — Ada yang berbeda dari resonansi udara di sekitar beranda Institut Agama Islam K.H. Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang dalam beberapa waktu terakhir. Menginjak usianya yang kian dewasa, puncak kemeriahan Dies Natalis ke 18 INSIMA yang bergulir hingga Jumat, 4 September 2026, tak ubahnya sebuah napak tilas spiritual yang sangat intim. Di kampus ini, perayaan usia tidak melulu diterjemahkan lewat keriuhan panggung megah, melainkan lewat heningnya doa dan syahdunya pelestarian tradisi warisan leluhur.

Jika Anda bertanya apa yang membuat INSIMA memiliki “nyawa” yang berbeda dari perguruan tinggi lainnya, jawabannya ada pada bagaimana para Insimazen merawat ingatannya. Semuanya bermula pada akhir Juli lalu. Sebagai agenda pembuka rangkaian acara Dies Natalis ke 18 INSIMA; segenap pimpinan rektorat, senat dosen, perwakilan mahasiswa, dan simpatisan kampus tidak berkumpul di dalam ruang auditorium, melainkan duduk bersila bersama di kompleks pemakaman masyayikh Cigaru pada 31 Juli 2026. Ziarah dan lantunan Sholawat Nariyah menggema bersama, merapal doa bagi para muassis (pendiri). Ada kehangatan kultural yang merayap di dada saat menyadari bahwa setiap langkah inovasi yang dijejakkan kampus hari ini, tak pernah lepas dari barokah dan keringat perjuangan leluhur terdahulu.

Ayat Suci yang Mengalun di Penjuru Kampus
Nuansa tradisi nan religius itu semakin mengental saat memasuki hari puncak peringatan. Sejak pagi hari pada 4 September 2026, denyut nadi kampus diselaraskan dengan ritme ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dibersamai Jam’iyyah Mudarasatil Qur’an Lil Hafizhat (JMQH) Cilacap Barat, seluruh keluarga besar sivitas akademika, mahasiswa, dan para alumni membaur bersama barisan JMQH dalam keheningan agenda Semaan Al-Qur’an.
Momen ini menjelma menjadi semacam detoksifikasi jiwa. Rangkaian pagi hingga usai ibadah shalat Jumat tersebut kemudian dipuncaki dengan sesi doa bersama. Kesyahduan resonansi spiritual ini semakin paripurna karena dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Habibah dan Ibu Nyai Hamidah. Sebagai dzuriyah muassis Pondok Pesantren Miftahul Huda Cigaru sekaligus representasi keluarga besar K.H. Sufyan Tsauri, kehadiran beliau menjadi penegas bahwa laju inovasi kampus senantiasa berpijak pada restu para pendahulu.
Rektor INSIMA, Dr. H. Masngudi, M.E.I., dalam momen tersebut menegaskan bahwa INSIMA senantiasa berupaya mengawinkan upaya mempertahankan tradisi dengan membangun budaya inovasi. Membangun peradaban yang progresif memang menuntut rasionalitas akademik, namun Insimazen sadar betul bahwa segalanya harus tetap dibingkai tak lain oleh rasa tawakal, mengharap ridho Sang Khalik.
Estetika Islam Nusantara di Atas Panggung
Namun, kesyahduan religius itu sama sekali tidak membuat kampus ini berjarak dari estetika budaya. Justru, nilai-nilai keislaman tersebut dileburkan secara apik melalui ekspresi seni. Pada hari yang sama, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kolosebu mempersembahkan sebuah pagelaran magis bertajuk “Gelar Budaya Islam Nusantara”.

Panggung perayaan disulap menjadi ruang sakral di mana tradisi lokal dirayakan secara meriah. Mahasiswa dengan penuh totalitas memperlihatkan kepiawaian mereka melalui sendratari dan drama kolosal yang mengangkat kekayaan cerita rakyat setempat. Pagelaran ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa INSIMA berdiri di garda terdepan untuk mengenalkan warisan leluhur dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kekayaan budaya Nusantara.
Pada akhirnya, perayaan ini meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Rangkaian ziarah, semaan, hingga pagelaran budaya ini adalah bukti sahih bahwa INSIMA bukan sekadar tempat menempuh kredit semester demi mengejar selembar ijazah belaka. Kampus ini adalah sebuah rumah besar; tempat di mana rasio dipertajam, tradisi dirawat, dan progresifitas keilmuan terus dirajut.













