
Majenang pagi itu dinaungi mendung yang menggantung rendah. Tak berselang lama, gerimis perlahan turun, meski sebentar cukup untuk membasuh debu kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino. Di tengah kepungan kabar Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda berbagai pulau di Indonesia, rintik hujan pertama di tahun 2026 ini seolah menjadi oase penyegar. Kesejukan gerimis tersebut beresonansi sempurna dengan sebuah ritus pengetahuan yang tengah berlangsung di The Prime Hotel, Rabu (30/09/2026). Di salah satu ruangannya, jajaran pimpinan, pengelola jurnal, hingga para dosen Institut Agama Islam K.H. Sufyan Tsauri (INSIMA) melepas sejenak rutinitas mengajar mereka di kelas. Mereka duduk membumi, menyatukan frekuensi dalam pendampingan tata kelola jurnal ilmiah yang difasilitasi oleh jajaran pakar dari UIN Raden Mas Said Surakarta.
Forum yang biasanya sarat dengan kekakuan birokrasi dan presentasi satu arah itu perlahan mencair. Dr. Anang Makruf, M.Pd., Managing Editor Journal of Educational Management and Instruction (JEMIN), membuka perbincangan dengan seloroh yang memancing tawa tertahan dari penjuru ruangan. “Jika kita lihat presiden dan kementerian super sibuk, sepertihalnya para pengelola jurnal,” ucapnya sembari tersenyum. Kalimat itu bukan sekadar kelakar penghangat suasana, melainkan potret jujur tentang betapa sunyi dan melelahkannya bekerja di dapur redaksi. Bersama simpul layanan UPT Perpustakaan kampus, para pengelola jurnal ini bekerja dalam senyap sebagai penjaga gerbang literasi, memastikan setiap publikasi yang lahir dari rahim kampus memiliki bobot dan kelayakan untuk diuji di ruang publik.
Kesunyian kerja redaksi tersebut kemudian dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang motif terdalam seorang pendidik. Dr. Heldy Ramadhan Putra, M.Pd., Editor in Chief JEMIN, menatap audiens dan melontarkan refleksi yang menukik tajam mengenai alasan di balik tradisi menulis. “Tentang komitmen ada dua. Komitmen normatif, misalnya datang ke sini karena apa, karena ada undangan,” paparnya. Ruangan menjadi hening sejenak sebelum ia melanjutkannya dengan penekanan, “Kedua komitmen afektif: ada ndak yang datang karena cinta belajar? Nah, ini komitmen yang unik, yang dibangun bukan semata karena kepentingan. Kalau kita punya komitmen afektif pastinya hasilnya akan maksimal.” Pertanyaan ini seketika menohok kesadaran. Menulis artikel ilmiah rupanya bukan semata alat tukar untuk meraih jabatan lektor kepala, melainkan wujud nyata pengabdian dan kecintaan murni pada ilmu pengetahuan.
Dorongan afektif itulah yang menurut Dr. Heldy harus menjelma ke dalam kepiawaian merajut narasi. Penulisan naskah akademik acapkali mandek karena ketiadaan State of the Art (SOTA) atau pijakan argumentasi yang jelas di bagian pendahuluan. “SOTA ini yang menunjukkan distingsi kita dengan artikel lain, yang menunjukkan ‘pojok pengetahuan’ kita. Di sinilah akan menunjukkan research gap,” urainya runut. Menariknya, di tengah perbincangan anatomi tulisan ini, ia menyisipkan peringatan keras menyikapi tren Kecerdasan Buatan (AI) yang kerap dijadikan jalan pintas. “AI tidak bisa menghasilkan pengetahuan baru, yang ia bisa hanya ‘mereproduksi’ pengetahuan yang sudah ada. Jadi tidak bisa kita menyerahkan sepenuhnya, apalagi ‘memperbudak’ AI untuk nulis introduction,” pesannya secara tegas. Sentilan ini mengafirmasi bahwa secanggih apa pun algoritma beroperasi, kedalaman nalar kritis dan rasa kemanusiaan seorang pemikir tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin.
Dialektika semakin bergemuruh ketika forum bergeser menjadi ruang obrolan dua arah yang hangat. Rektor INSIMA, Dr. H. Masngudi, M.E.I., bersama seorang dosen, Bu Tika, mengutarakan kegelisahan klasik mengenai validitas riset kepustakaan (library research) di kancah jurnal bereputasi tinggi. “Lalu bagaimana dengan bidang pemikiran atau studi keislaman dan filsafat?” tanya Pak Rektor. Menjawab keraguan tersebut, Dr. Arif Nugroho, M.Pd., mengurai simpul kebuntuannya. “Sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai lokus kajian, atau mitos mengenai studi kepustakaan lebih jelek dari riset lapangan. Ini sebenarnya mengenai segmentasi saja,” terangnya lugas. Ia bahkan menyarankan eksplorasi perangkat bibliometrik kontemporer seperti VOSviewer untuk membuktikan bahwa kajian berbasis teks klasik pun mampu menghadirkan ketajaman analitis yang tak kalah presisi.
Menjelang siang, diskusi merambah pada kekhawatiran yang disuarakan Bu Aniroh mengenai jebakan jurnal predator. Janji-janji manis terbit cepat dalam hitungan hari tanpa proses ulasan (review) yang masuk akal terus mengintai kewarasan akademisi. Kegelisahan ini dijawab dengan urgensi membangun lapis pertahanan yang kuat dari dalam institusi itu sendiri. Sebelum sebuah naskah diserahkan ke pihak luar, quality control berlapis wajib dilakukan dari rumah jurnal yang dikelola kampus. Hal ini kembali menegaskan betapa krusialnya ekosistem layanan sirkulasi dan literasi informasi internal dalam mengedukasi sekaligus menyaring mutu karya sivitas akademika.
Saat pertemuan diakhiri, gerimis di luar pelataran hotel telah sepenuhnya reda, menyisakan aroma petrikor yang menenangkan. Kemitraan antara INSIMA dan UIN Raden Mas Said hari itu rupanya mewariskan sesuatu yang melampaui urusan teknis tata kelola. Ruangan tersebut menjadi saksi estafet semangat bagi para pendidik untuk terus merawat akal budi. Bagi segenap sivitas akademika, hari ini adalah pengingat bahwa kebesaran sebuah kampus tidak dibangun semata dari tumpukan dokumen administratif, melainkan dihidupkan oleh dialektika, gagasan, dan kecintaan tulus terhadap ilmu. Selama para dosen tak lelah membedah pojok-pojok pengetahuan baru, tradisi intelektual di INSIMA akan terus tumbuh subur, tak peduli seberapa panjang kemarau yang melanda di luar sana.
