Insima News – Angin malam yang berhembus di Lapangan Kubangwaru, Desa Rejodadi, Kecamatan Cimanggu, seolah membawa pesan sunyi pada akhir Oktober ini. Di bawah naungan bendera Merah Putih yang gagah berkibar, 168 mahasiswa Institut Agama Islam KH. Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang menanggalkan ego pribadi mereka demi sebuah transformasi besar. Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (25-26/10/2025), si biru-putih alam menjadi saksi bisu pembukaan lembaran epik kepramukaan dalam agenda Penerimaan Tamu Racana Sufyan Tsauri (PATRAS) dan Pelantikan Pandega.
Dari Pagi Buta Hingga Hangatnya PersaudaraanKegiatan dimulai sejak pagi buta, saat kabut tipis masih menyelimuti Rejodadi. Wajah-wajah muda itu tidak menyuratkan kelelahan, melainkan antusiasme untuk menempa diri. Di sinilah “medan laga” sesungguhnya digelar. Melalui serangkaian orientasi dasar kepramukaan, para peserta diajak menyelami warisan sejarah dan adat istiadat racana yang kokoh.
Atmosfer keseriusan mencair menjadi keakraban saat kegiatan lapangan dimulai. Tawa dan peluh bercampur dalam lomba jelajah alam yang mengasyikkan, pembuatan pionering yang mengasah logika, hingga PBB kreatif yang menguji kekompakan. Di sela-sela nafas yang memburu, ikatan persaudaraan perlahan terajut. Mereka belajar bahwa ketangguhan mental dan ketangkasan fisik tak ada artinya tanpa kepedulian sosial—sebuah nilai yang mereka wujudkan langsung melalui kegiatan bakti sosial di sekitar lokasi perkemahan.
“Siap Berkarya, Kak!”
Momen paling magis hadir ketika matahari telah berganti bulan. Di bawah langit malam, api unggun dinyalakan, menjilat kegelapan dan menghangatkan suasana. Di lingkaran cahaya itulah, 168 hati menyatu. Nyanyian Pramuka bergema riang, diselingi cerita pengalaman yang mengundang gelak tawa dan haru. Tidak ada lagi senior atau junior yang berjarak; yang ada hanyalah satu keluarga besar Racana Sufyan Tsauri yang saling menguatkan.
Api semangat itu sebelumnya telah disulut oleh Pembina UKKM Pramuka, Ibu Kartika Wanojaleni M.Ag., yang dalam sambutannya membakar jiwa patriotik peserta. Jawaban serentak, “Siap berkarya bagi masyarakat, Kak!” menggema lantang, menegaskan bahwa PATRAS bukan sekadar perkemahan, melainkan benteng kaderisasi lestari untuk membumikan Dasa Darma di perguruan tinggi.

Lahirnya Pandega Berkualitas
Rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara megah nan khidmat. Doa syukur yang bergema menandai berakhirnya masa “tamu” mereka. Dengan pengukuhan resmi, “Dengan ini dinyatakan Anggota Racana!”, status mereka berubah.
Kini, mereka bukan sekadar mahasiswa biasa. Mereka adalah tunas muda yang telah ditempa menjadi pandega berkualitas, selaras dengan Profil Pelajar Pancasila. Dari tanah Kubangwaru, mereka pulang membawa bekal mental baja dan hati yang humanis, siap menyongsong tantangan zaman sebagai prajurit garuda di panggung akademik maupun masyarakat.














