BerandaMahasiswaKN INSIMA Ubah Mimbar Masjid Jadi Ruang Pemberdayaan di Sarwadadi

KN INSIMA Ubah Mimbar Masjid Jadi Ruang Pemberdayaan di Sarwadadi

CILACAP – Suasana di Masjid Al-Asyhar, Desa Sarwadadi, Kecamatan Kawunganten, terasa berbeda dari biasanya. Jika mimbar masjid kerap diidentikkan dengan komunikasi satu arah, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam K.H. Sufyan Tsauri Majenang (INSIMA) justru menyulapnya menjadi ruang interaksi yang hangat dan memberdayakan. Berkolaborasi dengan jamaah Muslimat dan Fatayat NU setempat, denyut nadi pengabdian ini tidak hanya berhenti pada ritual keagamaan, melainkan menyentuh akar sosial kemanusiaan.

Di tengah masyarakat agraris, jamaah tahlil atau pengajian rutin bukan sekadar aktivitas spiritual; ia adalah katup pengaman sosial tempat warga merekatkan solidaritas. Memahami lanskap kultural ini, mahasiswa KKN INSIMA hadir menyatu dengan warga, mengawali kegiatan melalui lantunan selawat dan aksi santunan anak yatim yang mengharukan. Santunan ini menjadi penanda bahwa spiritualitas yang diajarkan INSIMA adalah spiritualitas yang membumi—membawa kebahagiaan konkret bagi mereka yang membutuhkan.

Hadir memantik wawasan, Dr. H. Imam Tobroni, S.Ag., M.M., memberikan tausiyah yang menekankan peran krusial perempuan dalam membangun peradaban keluarga berakhlakul karimah. Pesan sejuk ini diamini oleh Ketua Muslimat NU Desa Sarwadadi, Hj. Inani, S.Ag., yang mengapresiasi inisiatif kolaboratif mahasiswa karena berhasil menyentuh harmoni ukhuwah sekaligus sisi kemanusiaan warga desa.

Namun, kejutan sesungguhnya terjadi pada sesi berikutnya. Mahasiswa INSIMA menyadari bahwa narasi keagamaan dan sosial butuh komunikator yang andal. Oleh karena itu, digelarlah pelatihan Public Speaking bagi kader Fatayat, IPPNU, guru, hingga remaja masjid. Ibu ‘Ainul Imronah, S.E., Sy., M.E., selaku dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam (FSEBI), tampil membedah teknik mengatasi demam panggung dan menyusun materi visual.

Secara sosiologis, ini adalah langkah progresif. Mengajak perempuan dan pemuda desa untuk berani memegang mikrofon dan mengorkestrasi massa adalah bentuk demokratisasi ruang publik di tingkat akar rumput. Antusiasme pecah saat para peserta berani maju mempraktikkan peran sebagai Master of Ceremony (MC) hingga orator, diiringi tepuk tangan riuh jamaah. Keberanian ini menuai pujian dari Ketua Fatayat NU, Siti Muslikhah, yang menyebut pelatihan ini sebagai terobosan vital untuk memupuk kepercayaan diri para kader pemimpin masa depan.

Kepala Desa Sarwadadi, Amin Muzaki, menyimpulkan vibes hari itu dengan sempurna: program KKN INSIMA adalah “paket lengkap”. Dengan memadukan sentuhan spiritual, empati sosial, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, mahasiswa INSIMA telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tamu musiman, melainkan katalisator perubahan yang nyata.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments