MAJENANG – Dalam diskursus pembangunan bangsa, kita kerap terjebak pada narasi makro tentang infrastruktur atau kebijakan publik, lalu melupakan satu institusi sosial yang paling purba dan fundamental: keluarga. Padahal, dari ruang-ruang tengah rumah tanggalah fondasi peradaban masyarakat direproduksi. Kesadaran inilah yang mendasari langkah taktis mahasiswa KKN INSIMA saat menggelar penyuluhan bertajuk “Manajemen Keluarga Sakinah” bagi ibu-ibu PKK Desa Kaliwungu.
Sebagai kampus dengan visi “The Digital Hub of Islamic Humanism”, INSIMA memahami bahwa keluarga rentan menjadi arena friksi jika tidak dikelola dengan literasi yang memadai. Melalui kepiawaian akademis Ibu Malika Fajri Noor, M.H., dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, wacana normatif agama diterjemahkan menjadi praktik tata kelola rumah tangga yang membumi. Didampingi oleh Suci Dewi Sawitri, mahasiswa prodi yang sama, kolaborasi dosen-mahasiswa ini menelusup masuk ke wilayah kultural pun ke relung ‘domestik’ ibu-ibu PKK.

Materi yang diusung mendobrak konsepsi pasif tentang kebahagiaan. Ibu Malika menegaskan bahwa predikat sakinah (ketenteraman) tidak jatuh dari langit, melainkan sebuah konstruksi sosial yang harus “dibangun” secara aktif. Elemen-elemen yang dibedah sangat esensial dan rasional: pentingnya seni komunikasi resiprokal antara suami-istri, kebijaksanaan literasi finansial, hingga pelembagaan nilai-nilai Islam dalam rutinitas harian.
Pendekatan etnografis yang digunakan narasumber patut diapresiasi. Alih-alih menceramahi dengan bahasa ‘langit’, materi dibungkus dengan idiom yang lebih membumi dan contoh kasus empiris yang lekat dengan realitas sosiologis warga Kaliwungu. Hasilnya? Sebuah mimbar akademik yang cair. Ibu-ibu PKK tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi bertransformasi menjadi subjek aktif yang berani berbagi kegelisahan dan pengalaman domestik mereka. Pembagian doorprize dari panitia semakin menghangatkan dialektika sore itu.

Langkah KKN INSIMA di Desa Kaliwungu ini merepresentasikan cara kerja akademik yang progresif. Mengubah paradigma pengelolaan emosi dan finansial di tingkat keluarga adalah intervensi mikro yang akan melahirkan makro-stabilitas di masyarakat. Harapannya, dari edukasi manajemen ini, cita-cita universal tentang keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan lagi sekadar doa yang diaminkan saat resepsi, tetapi laku hidup yang dipraktikkan secara sadar demi kesejahteraan bersama.














