MAJENANG (18/11) – Di tengah reruntuhan tanah Cibeunying, sebuah ikatan persaudaraan justru tumbuh semakin kokoh. Posko Terpadu Yayasan Sufyan Tsauri dan Institut Agama Islam Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang kini tak sekadar menjadi pusat logistik, melainkan saksi bisu betapa besarnya gelombang cinta dari berbagai penjuru. Hingga hari kelima pasca-bencana, amanah bantuan terus mengalir deras bak air bah yang menghapus duka; datang dari tangan-tangan ikhlas alumni, komunitas pecinta alam, santri, masyarakat luas, hingga institusi negara, yang semuanya bersatu padu menguatkan “keluarga” yang sedang limbung.

Duka kali ini memang terasa berbeda bagi keluarga besar Yayasan Sufyan Tsauri. Bencana longsor Cibeunying telah merenggut “Srikandi-Srikandi” terbaik yang selama ini menimba ilmu di rahim pendidikan ini. Tercatat, Julia Lestari (20) mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah INSIMA, serta dua siswi MTs PP Majenang, Maya Dwi Safitri (14) dan Wafik Nur Aini Zahra (15), dinyatakan gugur dalam tragedi tersebut. Kepedihan semakin menyayat hati karena satu srikandi cilik dari MI PP Majenang, Vani Hayati Lanjarsari (12), hingga kini masih dinyatakan hilang dan terus dicari keberadaannya di antara timbunan material longsor.
Di tengah suasana berkabung itulah, legitimasi dukungan moral hadir silih berganti. Pada Sabtu (15/11) lalu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Saiful Mujab, M.A., turut hadir langsung ke posko Yayasan untuk membasuh luka tersebut. Disambut oleh Kepala MTs PP Majenang, Jaenudin, S.Ag., M.Pd., dan Ketua Yayasan sekaligus Dosen INSIMA, Drs. H. Masyhud, M.Ag., kehadiran Kakanwil menjadi simbol bahwa negara turut merasakan denyut nadi kesedihan yang dialami institusi pendidikan Islam ini. Beliau menitipkan amanah bantuan kemanusiaan, mempercayakan Yayasan Sufyan Tsauri sebagai perpanjangan tangan yang paling mengerti kebutuhan korban.
Tak hanya itu, dukungan dan bantuan juga memeluk hangat dan erat di lapangan. Cucuran keringat ratusan relawan, uluran tangan dari mahasiswa maupun alumni INSIMA, hingga warga Dusun Cigaru dan Cibeunying, bahu membahu menjadi garda terdepan yang tak kenal lelah. Merekalah yang siang malam berjibaku di dapur umum, memanggul logistik menembus medan licin, dan menyisir puing-puing longsor. Semangat gotong royong inilah yang mengubah duka kehilangan “Empat Srikandi” menjadi energi perlawanan terhadap keputusasaan.

“Kami menerima semua amanah ini—baik dari Bapak Kakanwil maupun dari selembar rupiah donasi warga—dengan tanggung jawab penuh. Karena bagi kami, para korban adalah darah daging sendiri,” ungkap Drs. H. Masyhud, M.Ag. Posisi Yayasan yang menaungi jenjang pendidikan dari MI hingga Perguruan Tinggi menjadikan posko ini sangat strategis. Setiap bantuan yang masuk dikelola dengan transparansi ketat dan didistribusikan langsung ke titik-titik krusial, memastikan keluarga korban, termasuk keluarga Ananda Vani yang masih menanti keajaiban, mendapatkan pendampingan maksimal.
 
Sinergi yang terjalin di Posko INSIMA membuktikan nilai humanisme yang nyata. Tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat, antara dosen dan relawan; semua lebur dalam satu tujuan kemanusiaan. Posko ini menjadi bukti bahwa meski bangunan bisa runtuh oleh tanah, namun pondasi persaudaraan yang dibangun atas nama kemanusiaan tidak akan pernah goyah. Doa-doa terbaik terus dipanjatkan, agar para Srikandi yang telah berpulang mendapatkan tempat mulia di sisi-Nya, abadi dalam sanubari almamater tercinta.


Kampus INSIMA berkomitmen untuk terus mengawal amanah ini hingga fase pemulihan tuntas. Kepergian Julia, Maya, Wafik, dan hilangnya Vani, akan selalu menjadi pengingat abadi bagi civitas akademika untuk terus mengabdi. Di setiap paket bantuan yang tersalurkan dan di setiap keringat relawan yang menetes, terselip doa dan harapan agar Cibeunying segera bangkit, lebih kuat dari sebelumnya.














