
YOGYAKARTA – Suasana akademik di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, bergetar oleh dialektika pemikiran pendidikan Islam pada Rabu, 7 Oktober 2026. Di tengah riuhnya forum Kalijaga International Conference on Islamic Education (KAICIE) 2026, diskursus keilmuan dari Institut Agama Islam (IAI) K.H. Sufyan Tsauri Majenang (INSIMA) berhasil memikat perhatian panggung internasional. Tampil sebagai representasi kampus, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) INSIMA, Kartika Wanojaleni, M.Ag., sukses mencatatkan prestasi gemilang dengan menembus jajaran prestisius 20 best paper yang direkomendasikan untuk publikasi Scopus.
Membawa riset bertajuk “Ghazalian Integrated Curriculum Model (GICM): Reconstructing Al-Ghazali’s Epistemology, Ethics, and Education for Contemporary Character Building”, Kartika tidak sekadar membacakan teks akademik di hadapan para pakar. Ia menawarkan sebuah oase intelektual di tengah krisis moral modern, merajut kembali fondasi epistemologi dan etika Imam Al-Ghazali menjadi model kurikulum terintegrasi untuk pembentukan karakter masa kini.
Gagasan segar ini beresonansi kuat dengan tema besar KAICIE tahun ini yang menyoroti masa depan pendidikan Islam dalam merespons tantangan global. Keunggulan konseptual tersebut pun mendapat legitimasi formal. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 147/01/10/2026 yang dirilis oleh Panitia Ilmiah KAICIE, mahakarya akademik dari Kartika Wanojaleni et al. secara resmi dikukuhkan masuk dalam daftar artikel pilihan dan ditargetkan untuk menembus Jurnal Pendidikan Agama Islam yang terindeks Scopus.
Keberhasilan menembus kurasi ketat di ajang KAICIE ini bukanlah sekadar capaian panggung semata, melainkan manifestasi hidup dari habitus akademik yang terus dirawat di lingkungan kampus. Prestasi ini adalah cerminan sejati dari visi INSIMA sebagai perguruan tinggi yang profesional, progresif, dan unggul dalam kajian studi Islam humanis.
Sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama RI, INSIMA senantiasa bergerak melampaui rutinitas pengajaran di ruang kelas. Institut ini mendedikasikan diri untuk melahirkan diskursus keislaman yang tajam, membumi, dan mampu menjawab kompleksitas zaman. Tembusnya karya akademisi FTIK di ranah publikasi global ini pada hakikatnya adalah napas murni dari Tridarma Perguruan Tinggi—sebuah pembuktian otentik bahwa standar mutu, kematangan profesionalitas kelembagaan, serta tradisi keilmuan yang kuat telah berakar di Majenang.

Pencapaian ini menjadi energi kolektif bagi seluruh sivitas akademika untuk terus merayakan kebebasan berpikir, memproduksi pengetahuan yang inklusif, dan melangkah pasti sebagai episentrum kajian Islam yang merawat nilai-nilai kemanusiaan tanpa tertinggal oleh gerak peradaban. Selamat kepada Ibu Kartika Wanojaleni, M.Ag., karya Anda telah memastikan bahwa suara dari INSIMA menggema di ruang-ruang akademik dunia.
