BerandaPublikasiLangkah Progresif INSIMA Bangun Ekosistem Jurnal Ilmiah yang Humanis

Langkah Progresif INSIMA Bangun Ekosistem Jurnal Ilmiah yang Humanis

CILACAP – Ruang auditorium seringkali menjadi saksi bisu pertukaran gagasan. Namun, pada Senin, 27 Juli 2026, Auditorium Politeknik Negeri Cilacap berdenyut dengan diskursus yang lebih dari sekadar formalitas akademik. Hari itu, para penjaga gawang pengetahuan dari berbagai perguruan tinggi berkumpul dalam Sharing Session Forum Pengelola Jurnal Ilmiah Kabupaten Cilacap. Di tengah pusaran transformasi kebijakan ini, Institut Agama Islam K.H. Sufyan Tsauri Majenang (INSIMA) hadir membawa spirit yang melampaui sekadar pemenuhan beban administratif.

Membawa visi “The Digital Hub of Islamic Humanism”, delegasi INSIMA tidak datang hanya untuk mengisi absensi. Indri Muflikhatul Khoiriyah, M.Ag., dan Anisatul Latifah, M.H.—keduanya merupakan akademisi sekaligus editor jurnal kampus—hadir membawa misi institusional. Keikutsertaan mereka adalah bagian dari komitmen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan publikasi agar berdaya saing secara nasional.

Forum yang diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Cilacap ini mengusung tema besar: “Membangun Ekosistem Jurnal Ilmiah yang Profesional, Berkualitas, dan Berdaya Saing”. Mari kita bedah lebih dalam urgensinya. Di era akademik kiwari, produksi pengetahuan rentan terjebak dalam rutinitas mekanis—sebuah kondisi kultural di mana karya intelektual tereduksi menjadi deretan angka, kuantifikasi, dan kalkulabilitas indeks yang kaku. Publikasi berisiko jatuh menjadi sekadar tontonan atau ilusi prestise belaka jika terasing dari realitas sosial masyarakat.

Bagi INSIMA, jurnal ilmiah harus dikembalikan pada khittah-nya: sebagai ruang hidup tempat gagasan progresif dialektikakan dan didistribusikan untuk memecahkan persoalan peradaban. Menjadi kampus yang unggul dan progresif bukan berarti sekadar berlomba memproduksi kertas, melainkan memastikan setiap gagasan yang dipublikasikan memiliki kepekaan terhadap nilai-impresi kemanusiaan.

Dalam sesi tersebut, Muhammad Nur Faiz, S.Kom., M.Kom., pengelola jurnal JINITA (terindeks SINTA 2) dari Politeknik Negeri Cilacap, membedah anatomi pengelolaan jurnal yang sehat. Pemaparannya mengurai taktis operasional—seperti enam pilar ekosistem jurnal profesional dan peta jalan pengembangan—serta merespons dinamika regulasi terbaru, yakni Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026. Regulasi ini menjadi stimulus bagi institusi pendidikan untuk merestrukturisasi tata kelola editorial secara lebih profesional.

Kehadiran Indri dan Anisatul di forum strategis ini merupakan manifestasi konkret dari upaya merawat “wajah” sekaligus “pikiran” institusi. Melalui serapan wawasan penguatan tata kelola dan peningkatan mutu publikasi, mereka membawa pulang kerangka kerja untuk membangun ekosistem akademik yang lebih ajek di internal INSIMA. Harapannya, tradisi meneliti dan menulis tidak lagi dipandang sebagai kewajiban prosedural, melainkan kebudayaan kampus yang membebaskan.

Mengelola jurnal, pada hakikatnya, adalah mengelola gerak peradaban. Seiring transformasinya dari entitas keilmuan lokal menuju pusat studi Islam bereputasi, INSIMA tengah membangun infrastruktur intelektual jangka panjang. Jurnal yang bereputasi kelak menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan para pemikir di balik mimbar akademik dengan realitas masyarakat. Sebuah pembuktian sahih bahwa dari Majenang, INSIMA terus berproses merawat denyut nadi Islam Humanis yang mencerahkan.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments