MAJENANG (13/11) – Malam yang seharusnya syahdu di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, seketika berubah menjadi mimpi buruk. Tepat pukul 20.00 WIB, Kamis (13/11/2025), suara gemuruh tanah membelah keheningan Dusun Tarukahan dan Cibuyut. Tragedi ini terjadi pada momen yang memilukan, tepat sesaat setelah sebagian besar kaum adam warga dusun usai menunaikan rutinan tahlil, sementara para ibu dan anak-anak sedang bercengkrama di dalam rumah, tak menyadari bahaya yang mengintai.

Bencana ini tidak terjadi tanpa tanda. Secara geografis, wilayah Cibeunying memang memiliki kontur perbukitan dengan kemiringan yang curam. Kondisi ini diperparah oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Majenang sejak beberapa hari sebelumnya, membuat struktur tanah menjadi jenuh air dan labil. Dua hari sebelum kejadian naas ini, tanda-tanda alam sebenarnya telah muncul berupa amblasnya tanah sedalam sekitar 2 meter di dusun sebelah, namun evakuasi menyeluruh belum sempat terlaksana hingga akhirnya belahan tanah meluas dan memicu longsor besar. Material longsoran yang masif tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengubah struktur tanah yang berdampak jangka panjang bagi lingkungan sekitar.
Kabar duka ini segera sampai ke telinga civitas akademika Institut Agama Islam Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang. Berdasarkan informasi awal dari lokasi kejadian, salah satu korban yang tertimbun adalah Julia Lestari (20), mahasiswi semester 5 Program Studi Ekonomi Syariah. Kampus INSIMA yang berdomisili tidak jauh dari lokasi bencana segera merespons situasi darurat ini. Keterlibatan INSIMA dalam situasi ini bukan hanya sebagai institusi pendidikan, namun sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Majenang yang kini sedang berduka.

Malam semakin larut, namun upaya penanganan baru saja dimulai. Tim SAR gabungan bersama BPBD Cilacap dan warga setempat mulai melakukan upaya evakuasi manual di tengah kegelapan dan risiko longsor susulan. Peristiwa malam ini menjadi alarm kemanusiaan bagi seluruh elemen kampus INSIMA untuk segera merapatkan barisan, mempersiapkan bantuan logistik, dan menerjunkan relawan guna membantu proses evakuasi yang diprediksi akan berlangsung berat esok hari.














