BerandaArtikelMenyibak Warisan Samarqandi: Menelusuri Politik Cita Rasa Yang Menghegemoni

Menyibak Warisan Samarqandi: Menelusuri Politik Cita Rasa Yang Menghegemoni

Jauh sebelum ilmu gizi modern mendefinisikan kalori dan vitamin, peradaban Islam telah lebih dulu menempatkan makanan di posisi terhormat: sebagai pilar penjaga akal dan jiwa, bukan sekadar pemuas nafsu perut. Di abad ke-13, seorang dokter Muslim jenius, Najib ad-Din Abu Hamid Muhammad ibn Ali ibn Umar Samarqandi, dalam magnum opus-nya Al-Aghdhiyah wa-l-Ashribah (Kitab Makanan dan Minuman), telah mewariskan sebuah peta jalan yang canggih.

Bagi Samarqandi, tubuh manusia bukanlah mesin seragam yang bisa diisi bahan bakar sembarangan. Ia mengajarkan bahwa nutrisi harus berdialog dengan temperamen tubuh. Di sinilah letak jantung konsep Halalan Thayyiban. Jika Halal adalah legalitas syariat (hukum), maka Thayyib adalah kualitas sains dan etikanya. Makanan yang thayyib adalah makanan yang memuliakan tubuh, yang tidak menyakiti, dan yang membangun kualitas kemanusiaan kita.

Namun, saat kita menutup lembaran kitab tua nan bijak itu dan melangkah keluar menuju realitas hari ini—baik di kantin kampus maupun di tengah masyarakat—kita seolah terlempar ke dunia yang asing. Warisan luhur itu lenyap, digantikan oleh aroma penyedap rasa yang menyengat dan deretan makanan instan yang miskin makna. Ketimpangan antara idealisme masa lalu dan realitas meja makan inilah yang menuntut kita untuk merenung ulang melalui dua kacamata kritis: hegemoni selera dan etika kebijakan publik.

Dari Kitab ke Kantin: Politik Selera, Siasat Kelas Lidah

Realitas hari ini adalah sebuah ironi yang merisaukan. Di ruang kuliah, kita berdebat lantang soal peradaban dan keadilan, namun di piring makan, kita seringkali “mendzalimi” diri sendiri. Pertanyaannya: mengapa kita lebih mudah memilih seblak pedas bertabur kerupuk warna-warni ketimbang sepiring pecel sayur? Apakah semata karena harga?

Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, dalam Distinction, membantu kita membedah fenomena ini. Selera makan, kata Bourdieu, tidak pernah netral. Ia adalah habitus—hasil konstruksi sosial. Hari ini, lidah kita sedang “dijajah” oleh industri pangan ultra-proses. Kita dikondisikan untuk meyakini bahwa “enak” itu harus gurih berlebih, manis menyengat, dan praktis. Inilah yang disebut “politik selera”.

Akibatnya, konsep Thayyib yang diajarkan Samarqandi terpinggirkan. Kita mengalami hidden hunger (kelaparan tersembunyi); perut kenyang, badan gemuk, namun sel-sel tubuh menjerit kelaparan nutrisi. Tanpa sadar, kita mewariskan “selera sakit” ini kepada generasi penerus, menciptakan lingkaran setan stunting dan penyakit degeneratif yang sulit diputus.

Jika Samarqandi bicara soal Thayyib dari sudut pandang klasik, maka sains modern mengonfirmasinya dengan bahasa biologi yang tegas. Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, seorang ahli gizi komunitas yang gigih menyuarakan “kembali ke dapur ibu”, menegaskan bahwa makanan adalah informasi. Apa yang kita suapkan ke mulut adalah pesan coding bagi DNA tubuh. Jika “pesan” yang masuk adalah gula rafinasi, lemak trans, dan pengawet, maka tubuh akan merespons dengan peradangan (inflamasi) dan kerusakan sel.

Dr. Tan mengingatkan bahwa tubuh yang diisi “sampah” tidak akan mampu melahirkan pemikiran yang jernih. Di sinilah benang merah Islam Humanis semakin tebal: menjaga asupan makanan bukan sekadar gaya hidup glowing, tapi prasyarat mutlak untuk menjaga akal (hifdzul ‘aql). Mustahil kita berharap lahir generasi pemikir progresif dari tubuh-tubuh yang setiap hari “dikhianati” oleh asupan gizinya sendiri bukan?

Ujian Kemanusiaan di Atas Meja Makan Bersama

Kesadaran tentang Thayyib dan “Pesan DNA” inilah yang harus kita bawa saat memandang program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bukan sekadar proyek logistik membagikan nasi kotak, melainkan ujian kemanusiaan bagi kita sebagai bangsa. Bagaimana tidak, program ini dibiayai oleh “keringat rakyat” melalui pajak. Ada amanah besar di sana.

Maka, dalam perspektif Islam Humanis, program ini tidak boleh menempatkan rakyat (siswa/santri) sebagai objek pasif yang harus menerima apa saja “asal kenyang”. Makanan yang disajikan haruslah makanan yang Thayyib—kualitas yang sama dengan yang kita ridhoi untuk anak kandung kita sendiri. Jangan sampai niat mulia ini tercederai oleh praktik bisnis yang mereduksi kualitas gizi demi keuntungan sesaat. Memberi makan dengan kualitas buruk, atas nama proyek negara, adalah bentuk dehumanisasi halus.

Sebaliknya, menyajikan makanan Thayyib adalah bentuk penghormatan tertinggi negara terhadap martabat warganya. Ini adalah implementasi nyata dari nilai rahmatan lil alamin—memberi manfaat yang memuliakan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Hari Gizi Nasional di INSIMA bukan sekadar seremonial. Ini adalah panggilan pulang. Pulang kepada kearifan Samarqandi, pulang kepada kesadaran sains, dan pulang kepada tanggung jawab kemanusiaan. Mari kita mulai revolusi kecil ini dari meja makan kita sendiri. Saatnya kita mendidik ulang lidah kita untuk kembali mencintai khazanah cita rasa, menghargai makanan, dan menolak hegemoni ‘cipta’ rasa. Untuk kembali mengenal “rupa brahmana warna sari” yang diwariskan para moyang leluhur bangsa.

Hanya dengan memastikan setiap suapan itu Halalan Thayyiban, kita benar-benar sedang membangun peradaban. Sebab, tubuh yang sehat dan dimuliakan adalah rumah terbaik bagi jiwa yang tenang dan akal yang tajam—modal utama untuk membawa Indonesia, dan INSIMA, menuju masa depan yang unggul. Selamat Hari Gizi Nasional.

(INR_ZA)

Daftar Bacaan & Referensi:

  • Samarqandi, N. A. (c. 13th Century). Al-Aghdhiyah wa-l-Ashribah (The Book of Food and Drink). Sebuah traktat medis klasik tentang dietetik dalam tradisi kedokteran Islam.
  • Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press. (Membahas bagaimana selera dikonstruksi oleh kelas sosial).
  • Yen, T. S. (2020). Saya Pilih Sehat dan Sembuh. Kompas Gramedia. (Pandangan Dr. Tan Shot Yen mengenai nutrisi dan perlawanan terhadap industri pangan ultra-proses).
  • Kementerian Kesehatan RI. (2021). Buku Saku Kader Pintar Cegah Stunting.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments